Suatu ketika datang seorang murid bertanya kpd gurunya:

Guru, mengapa saat ini banyak sekali orang yg sebenarnya kalau dilihat dari pekerjaan & keuangan, mereka sudah termasuk golongan mapan secara ekonomi, tetapi mereka tampak kurang bahagia, demikian pula sebaliknya ada orang yang tergolong belum mapan secara ekonomi, tetapi tampak lebih bahagia?

Sambil tertawa kecil, guru itu menjawab muridnya:

Anakku, ada banyak faktor yg membuat orang kurang bahagia seperti itu.

Pertama, ambisi mereka jauh lebih tinggi melampaui akal sehat. Mereka cenderung tidak realistis dengan segala potensi dan kemampuan yang ada padanya. Orang menyebutnya dengan istilah “ambisius”. Memang setiap orang mesti memiliki ambisi sebagai pendorong untuk maju, tetapi hendaknya tidak ambisius.

Kedua, mereka cenderung berpikir negatif dalam menjalani hidupnya. Mereka suka berprasangka buruk terhadap orang lain. Akibatnya mereka selalu terperangkap dalam jebakan pikiran negatif yang membelenggunya makin kuat. Sikap mereka dapat terlihat dari hal-hal yang kecil, seperti: suka mikirkan hal-hal yang sebenarnya orang lain tidak pikirkan. Misalnya jika ada teman yang mengingatkan kekeliruannya, orang ini langsung menganggap bahwa dia dilawan, merasa tidak disukai bahkan merasa dibully (pinjam istilah zaman now). Mereka tidak melihat secara positif apa makna dan manfaat dari peringatan tersebut. Mereka jarang bahkan tidak mau mengintrospeksi diri. Mestinya mereka menanggapi segala masukan dan kritikan untuk perbaikan dan pembenahan dirinya.

Akibat kurang berbenah diri tersebut, lebih lanjut mereka dikuasai oleh rasa kecewa, marah, benci, dengki, dan sejumlah pikiran negatif lainnya. Bahkan mereka tak segan-segan merancang hal buruk untuk menjatuhkan orang telah memberikan masukan kepadanya. Intinya orang yang tidak berpikir positif ini, makin hari hidupnya akan semakin tidak berbahagia.

Mendengar penjelasan ini, murid itu marasa penasaran yang mendalam, sehingga bertanya lagi: “maaf guru, mengapa masih saja ada orang yang seperti itu? Kira-kira apa alasannya dan bagaimana cara membuatnya agar dia mampu berpikir positif?”

Jawab guru: “bagus sekali pertanyaanmu, nak. Tetapi bapak belum selesai menjawab pertanyaanmu yang pertama tadi. Bapak masih ingin menambah lagi beberapa alasan orang tidak berbahagia sesuai pertanyaanmu terdahulu. Namun karena saat ini sudah waktunya untuk bapak mengajar ke kelas, nanti kita lanjutkan diskusi kita pada kesempatan yang akan datang ya”.

Jawab murid itu: “Terima kasih Guru, saya siap mendengarkan penjelasan lanjutan pada kesempatan berikut. Sampai jumpah bapak”. Setelah itu, sang guru menuju ke kelas untuk melaksanakan tugas pokoknya sebagai guru.