Saat ini kita semua sudah mendengarkan bersama bahwa persentasi kelulusan dalam Test CPNS Tahun 2018 sangat rendah di seluruh Indonesia karena peserta test CPNS yang bersangkutan belum memenuhi Passing Grade Kelulusan. Menyikapi kejadian ini, bermunculan banyak spekulasi tentang alasan rendahnya angka kelulusan tersebut, antara lain: karena sistem CAT merupakan hal baru, soal ujiannya cukup sulit, terbatasnya waktu yang tersedia, dan berbagai alasan lainnya.

Terlepas dari sejumlah alasan spekulasi di atas, bagi saya hal terpenting adalah fenomena rendahnya persentasi kelulusan tersebut memberikan indikasi kuat bahwa kompetensi SDM (terutama kecerdasan intelektual maupun emosional) generasi penerus di negeri ini masih tergolong rendah karena berbagai alasan masing-masing. Rendahnya kompetensi tersebut, antara lain disebabkan karena masih kurangnya perhatian kita semua terhadap kegiatan dan proses belajar mengajar sejak sekolah dasar, lanjutan menengah pertama hingga menengah atas dan bahkan perguruan tinggi.

Sehubungan dengan itu, sudah saatnya para Guru, Orang Tua/Wali Murid, Komite Sekolah, Dinas Pendidikan, DUDI (Dunia Usaha Dunia Industri) dan berbagai stakeholder lainnya memberikan perhatian yang lebih serius kepada para peserta didik sejak di sekolah, agar memberikan motivasi dan dukungan penuh dengan berbagai cara.

Selama ini terkesan bahwa para pihak yang berperan aktif untuk proses pendidikan di sekolah hanya Guru, Orang Tua Murid dan Komite Sekolah. Bahkan pada beberapa kasus, peran orang tua murid dan komite sekolahpun masih cukup terbatas.

Sudah saatnya berbagai stakeholder dapat berperan aktif, terutama DUDI dan PLN juga mesti turut berperan aktif. DUDI dapat mengalokasikan sebagian kecil dari keuntungannya untuk mendukung program dan kegiatan pendidikan serta selalu siap membantu anak didik dengan cara menyediakan kegiatan-kegiatan tertentu yang memberikan kesempatan bagi anak didik melakukan praktek-praktek lapangan.

Kepada PLN, sudah saatnya untuk segera meningkatkan pelayanan jaringan dan aliran listrik ke berbagai sekolah dan rumah-rumah penduduk sekitar sekolah. Banyak fakta menunjukan bahwa masih cukup banyak sekolah di sejumlah desa yang belum dialiri listrik, apa lagi rumah-rumah penduduk di sekitarnya.

Ketiadaan aliran listrik di sekolah tersebut mengandung beberapa potensi masalah, antara lain:

(1) Anak didik pada sekolah yang bersangkutan tidak akan mengenal sejumlah teknologi pembelajaran yang menggunakan aliran listrik. Akibatnya mereka akan ketinggalan dalam mengikuti perkembangan iptek yang kian meningkat;

(2) Menutup kesempatan bagi anak didik yang bersangkutan untuk belajar pada malam hari. Akibatnya banyak siswa yang tidak belajar, sepulang dari sekolah;

(3) Mengurangi peran orang tua/wali murid dalam hal mendorong anaknya untuk belajar mandiri di rumah. Praktis mereka hanya bisa belajar di sekolah. Pada sore hari mereka disibukan dengan pekerjaan rumah dalam hal membantu orang tua di rumah;

(4) Para siwa yang bersangkutan mulai terbiasa untuk tidak belajar mandiri di rumah, karena alasan listrik tersebut. Hal ini akan menjadi salah satu masalah yang cukup berbahaya bagi para siswa, sebab jika sejak dini mereka sudah terbiasa untuk tidak belajar mandiri di rumah, maka perilaku ini akan sulit dirubah, mana kala anak yang bersangkutan sudah menginjak dewasa.

Oleh karena itu, kepada semua pihak, terutama DUDI dan PLN mesti mulai menyadari pentingnya kontribusi mereka terhadap peningkatan SDM generasi muda sebagai penerus cita-cita pembangunan bangsa dan negara.

Dengan adanya perhatian yang serius dan kongkrit dari berbagai pihak, dan bila berjumpah dengan dorongan motivasi belajar yang kuat dari dalam diri peserta didik yang bersangkutan untuk menggapai cita-citanya, maka akan menghasilkan generasi penerus yang kompeten serta lebih siap menghadapi berbagai tantangan, termasuk dalam seleksi CPNS dan tantangan dunia kerja lainnya yang semakin ketat. Semoga…