Setelah melewati libur Natal dan Tahun Baru 2019, pada minggu pertama Januari 2019, rata-rata lembaga pelayanan publik baru saja mulai bekerja dan melaksanakan tugasnya selama dua hari, yakni Kamis – Jumat, 3 – 4 Januari 2019. Selanjutnya akan bekerja lebih efektif pada minggu kedua Januari 2019 dan seterusnya.

Dalam dua hari kerja pada minggu pertama Januari 2019 ini, tampaknya belum banyak hal yang dibuat, karena waktunya masih sangat terbatas. Warga masyarakat berharap mulai minggu depan, minggu kedua Januari 2019 dan seterusnya semua lembaga pelayanan publik sudah semakin efektif dan prima dalam mengemban tugas-tugas pelayanan sesuai kewenangan dan fungsinya masing-masing.

Ketika saya menyampaikan harapan warga itu dalam sebuah percakapan kecil dengan seorang teman, ia menantangku dan berkata: “ah… sama saja, mereka akan bekerja seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita sudah tahu model dan gaya mereka. Tahun berganti tahun tidak ada perubahan yang signifikan”. Dengan ketus ia menambahkan: “Malas deh… mendengar harapan yang cenderung sia-sia itu”.

Mendengar ia menyampaikan hal itu, saya cukup terkejut, bahkan sebagai salah seorang ASN, saya merasa terpukul dengan kritikan ini. Selanjutnya saya bertanya kepadanya: “Apa yang harus dilakukan agar harapan itu menjadi nyata?” Ia menjawabku dengan berkata: “Semestinya setiap lembaga pelayanan publik, melakukan refleksi perjalanan dan evaluasi pelayanan tahun 2018. Sudah pasti bahwa pada tahun 2018 terdapat banyak kelemahan dan kekurangan yang harus dibenahi pada tahun 2019 dan tahun-tahun selanjutnya. Dengan demikian akan terjadi perubahan dan perbaikan yang signifikan sebagaimana yang diharapkan oleh warga penerima layanan”.

Sejenak saya terpaku sambil merenung. Benar juga pendapat temanku ini bahwa semestinya memang harus demikian.

Lalu saya mengatakan kepadanya bahwa refleksi dan evaluasi sudah dilakukan pada setiap akhir tahun. Sambil tertawa ia menjawabku: “Mana sempat mereka berefleksi karena padatnya kegiatan dan pekerjaan rutin yang menumpuk pada setiap akhir tahun. Hal ini dapat dipahami oleh banyak pihak. Karena padat dan menumpuknya pekerjaan pada akhir tahun tersebut, maka waktu terbaik untuk refleksi dan evaluasi adalah pada setiap awal tahun, termasuk pada awal tahun 2019 ini, dimana pekerjaan rutin maupun kegiatan pelayanan pada setiap awal tahun masih sangat sedikit. Sehingga waktu yang ada sebaiknya digunakan dengan maksimal untuk melakukan refleksi dan evaluasi, demi perbaikan pelayanan pada tahun 2019”.

Lantas saya bertanya lagi kepadanya: “apakah teman menganggap bahwa selama ini, lembaga pelayanan publik itu tidak berefleksi dan tidak melakukan evaluasi?”.

Dengan enteng ia menjawabku: “hehehe… katanya sih, ada evaluasi. Tetapi saya menjadi tidak percaya karena nyatanya model pelayanan mereka koq masih begitu-begitu saja dari tahun ke tahun. Bahkan lebih parahnya lagi, mereka masih cenderung melakukan kesalahan yang sama secara berulang-ulang. Mereka terkesan melakukan pembiaran terhadap berbagai kelemahan dan kekurangan yang ada, baik secara kelembagaan maupun perseorangan. Oleh karena itu, saya jadi tidak percaya kalau mereka itu melakukan refleksi dan evaluasi hehehe…”.

Setelah berkata demikian, ia pamit pergi meninggalkanku dalam kesendirian. Kemudian sayapun kembali ke rumah sambil merenungkan makna percakapan tadi dan berharap mudah-mudahan cerita ini diketahui oleh para pengambil kebijakan untuk disikapi demi kebaikan semua orang.