16b4e5d7-27f1-4d68-a18f-54d740a7ec83-1

KRITIK merupakan salah satu istilah yang senantiasa didengar setiap hari. Kritik sebagai ungkapan tidak setuju dari satu pihak terhadap satu atau beberapa hal dari pihak lain, bisa membuat orang tersinggung, bahkan bisa lemas tak berdaya. Namun sebaliknya sangat lazim bahwa kritik telah membuat banyak orang sukses, bahkan kritik mampu membesarkan orang yang semula biasa-biasa saja, menjadi sukses luar biasa.

Baca juga: Sikap Anti Kritik yang Perlu Kita Waspadai

Pertanyaannya adalah mengapa demikian?

Secara etimologis, kritik berasal dari bahasa Yunani, yaitu ‘kritikos’ yang terkait dengan krinein, yang berarti mengamati, memisahkan, menimbang dan membandingkan. Dengan demikian, sebenarnya suatu ungkapan dalam bentuk kritik yang dilontarkan oleh seseorang merupakan hasil dari mengamati, memisahkan, menimbang dan membandingkan suatu masalah tertentu yang telah dibuat oleh orang lain (yang biasanya menjadi sasaran kritik).

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa sesungguhnya kritik yang muncul, telah melalui suatu proses. Dalam hal demikian, kritik itu akan selalu bermanfaat untuk membuat seseorang menjadi lebih baik.

Namun sayangnya sering kali wujud kritik itu berupa ungkapan tidak setuju yang lebih banyak membeberkan keburukan dan kelemahan pihak lain, bahkan atas nama kritik, ada orang yang mencari-cari kesalahan pihak lain, tanpa diimbangi dengan analisis yang memadai dan solusi untuk perbaikan. Hal ini sebenarnya tidak tergolong sebagai kritik dalam makna yang sesungguhnya, melainkan lebih cocok dikelompokan sebagai sikap “cari hal” (cari-cari masalah).

Sehubungan dengan itu, hal yang dibutuhkan adalah kritik dalam makna yang sesungguhnya sebagaimana tersebut di atas, agar dapat diperoleh solusinya, sehingga permasalahan yang ada dapat teratasi. Dalam hal ini setiap permasalahan yang dihadapi perlu diamati, dianalisis (diurai), ditimbang dan dibanding-bandingkan dengan yang lain, lalu dimunculkan sejumlah alternatif solusi guna memecahkan masalah yang ada. Dengan demikian, pada prinsipnya, setiap kritik yang benar (kritik yang membangun) biasanya mengandung tiga hal, yaitu: (1) ungkapan fakta kelemahan/kekurangan/ kesalahan/masalah yang timbul; (2) analisis atas kelemahan/masalah yang terjadi; dan (3) alternatif solusi untuk mengatasi masalah yang ada.

Setiap orang yang tertib mengggunakan dan mengelola kritik dalam makna yang benar seperti terurai di atas, biasanya mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang sukses akibat adanya kritik.

Baca juga: Tujuh Langkah Menyikapi Kritik secara Positif

Terlepas dari kritik sebagai bentuk sikap tidak setuju seseorang terhadap apa dianggap bermasalah, pada sisi lain pihak yang dikritik, juga mesti optimis dan selalu berjiwa besar untuk menerima kritik. Sebab kritik itu memiliki sejumlah manfaat, antara lain: kritik dapat memperbaiki kesalahan diri agar menjadi lebih baik ke depannya. Dari sembrono menjadi lebih berhati-hati, dari meremehkan menjadi lebih memperhitungkan, dari analisis dangkal dan sempit menjadi lebih mendalam dan menyeluruh, serta dari berbagai kekurangan lainnya menjadi lebih baik dan matang. Oleh karena itu setiap orang yang dikritik mesti berjiwa besar, mau berbenah dan berterima kasih kepada mereka yang peduli dengannya melalui berbagai kritik untuk kebaikan diri hari ini, esok dan seterusnya. Dari pemahaman ini setiap orang yang dikritik akan selalu berkata: “Terima kasih…, kritikmu menghidupkanku”.