Sumber gambar: tutorialaplikasi.com

Setelah membaca tulisan tentang Tujuh Langkah Menyikapi Kritik secara Positif, dimana pada langkah kelima disebutkan bahwa seseorang yang telah dikritik perlu meminta maaf kepada si pemberi kritik. Lalu ada seorang pembaca yang mengirim pesan kepada saya lewat WA bahwa meminta maaf itu dapat menjatuhkan gengsi dan harga dirinya. Katanya; “Kalau saya tidak bersalah, mengapa harus meminta maaf pada orang mengeritik saya? Meminta maaf itu bisa menjatuhkan gengsi dan harga diriku. Oleh karena itu saya tidak setuju dengan langkah kelima itu”.

Menyimak akan pertanyaan dan pernyataan di atas, ada benarnya juga dan bisa saja mewakili banyak pembaca lain yang belum sempat berdialog denganku. Mengapa demikian, karena memang sejak lama, dalam pergaulan sehari-hari kita selalu menjumpai bahwa masih cukup banyak orang yang enggan meminta maaf, dengan alasan seperti tersebut di atas.

Hal ini, kemudian mendorong kami masuk dalam diskusi yang lebih serius. Hasil diskusinya diperoleh beberapa catatan, sebagai berikut:k

Pertama, ada pemahaman yang berkembang dan tertanam dalam benak masyarakat umum selama ini bahwa orang yang meminta maaf itu adalah orang yang sudah jelas bersalah dan telah menyebabkan orang lain kecewa. Guna mengobati rasa kecewa pada korban kesalahan tersebut, maka dibangun suatu kearifan yakni orang yang bersalah segera meminta maaf. Kemujaraban obat psikologi ‘minta maaf’ ini sungguh telah terbukti khasiatnya dalam banyak kasus. Apalagi jika masalah yang terjadi di antara dua pihak yang memiliki hubungan kekerabatan, pertemanan, relasi bisnis dan seterusnya. Dipastikan bahwa obat psikologis ‘minta maaf’ akan sangat mujarab dalam mengobati rasa kecewa bahkan menyembuhkan luka bathin seseorang. Hal ini sudah terlangsung sejak lama.

Kedua, dari cerita di atas, terlihat bahwa tujuan dari ‘minta maaf’ itu adalah untuk mengobati rasa kecewa lawan/orang lain. Dengan minta maaf, maka rasa kecewa dapat terobati dan hubungan antara kedua belah pihak menjadi pulih seperti sedia kala. Jika kita mengacu pada tujuan minta maaf ini, jelas bahwa sebenarnya meminta maaf dapat dilakukan oleh siapa saja terhadap siapapun, yakni jika siapapun yang membutuhkan pengobatan psikologis atas rasa kecewa atau marah yang ada padanya, maka siapa saja mesti memberi obat itu kesembuhan bathin. Dengan demikian, sedikit sempit pemahaman bahwa minta maaf itu dilakukan karena seseorang telah bersalah. Mestinya semua orang memiliki pemahaman yang lebih lengkap bahwa minta maaf itu sebagai upaya nyata untuk mengobati rasa kecewa atau marah atau luka bathin orang lain.

Ketiga, adanya pemahaman yang terbatas selama ini bahwa seseorang minta maaf karena ia telah bersalah, hal ini telah berakibat banyak orang tidak bersedia minta maaf. Sebab seseorang yang merasa tidak bersalah, sekaligus kuatir disalahkan oleh pihak lain.

Fenomena di atas tentu tidak salah karena begitulah pemamahan yang terbangun selama ini. Namun, jika kita menginginkan suatu keadaan yang lebih baik, semestinya semua orang lebih fokus pada pemahaman bahwa ‘minta maaf’ itu merupakan upaya mengobati rasa kecewa, marah dan gangguan bathin orang lain.

Jika semua orang sudah memiliki pemahaman yang lengkap seperti terurai di atas, maka kita menjadi mengerti bahwa sebenarnya minta maaf itu tidak menjatuhkan gengsi dan harga diri siapapun. Sebaliknya justru sikap ini menunjukan kebesaran jiwa, kerendahan hati, bahkan menaikan rasa kagum dan simpati pada diri orang yang berani minta maaf itu. Dengan demikian, siapa saja akan sangat mudah meminta maaf kepada siapapun untuk tujuan baik. Siapa saja tidak perlu merasa rendah atau harga diri terinjak atau gengsi jatuh mana kala ia minta maaf. Sebab minta maaf itu adalah ‘perbuatan mulia’, yakni upaya mengobati rasa kecewa atau gangguan bathin orang lain demi kebaikan bersama.