Sumber Gambar: RMOLSumsel

Menjelang 17 April 2019, berbagai strategi dan taktik politik semakin gencar dikerahkan oleh para calon legislatif (caleg) untuk meraih kursi legislatif. Dilihat dari titik berangkatnya saat ini, secara umum para caleg tersebut terbagi atas empat kategori, yakni: (1) para caleg yang saat ini sedang menjabat sebagai anggota legislatif, lalu mencalonkan diri lagi pada periode 2019-2024; (2) para caleg yang dulunya pernah menjadi anggota legislatif, dan saat ini bukan lagi anggota legislatif karena berbagai alasan; (3) para caleg yang pernah caleg pada pemilu sebelumnya, tetapi belum sempat lolos menjadi anggota legislatif; dan (4) para caleg pendatang baru di tahun 2019.

Banyak pendapat yang beredar dalam percakapan warga di lapangan bahwa dari keempat kategori caleg di atas, caleg pendatang baru di tahun 2019 memiliki peluang paling kecil untuk lolos. Bahkan ada orang mengklaim bahwa caleg pendatang baru tidak bisa terpilih menjadi anggota legislatif. Katanya para caleg pendatang baru itu belum memiliki pengalaman dalam urusan pencalegan. Para caleg pendatang baru dianggap belum tahu bagaimana strategi dan taktik politis yang tepat untuk lolos menjadi anggota legislatif.

Pertanyaannya: benarkah caleg pendatang baru itu tidak bisa terpilih?

Pandangan yang beredar di atas, tentu menggambarkan suatu cara berpikir yang menyederhanakan persoalan. Apalagi dalam urusan politik praktis, hampir tak pernah ada metode dan rumus baku untuk meraih suatu kesuksesan. Dinamika dan variabel politik selalu berubah setiap saat. Oleh karena itu, sebenarnya semua caleg memiliki peluang yang sama, termasuk para caleg pendatang baru.

 Walaupun dikatakan bahwa para caleg pendatang baru itu belum berpengalaman, namun mereka tetap berpeluang untuk lolos. Bahkan mereka memiliki peluang yang lebih besar untuk lolos menjadi anggota legislatif dengan beberapa alasan, sebagai berikut:

Pertama, melalui proses pencalegan ini ia akan terus belajar untuk memperoleh pengalaman praktis yang bisa dikembangkan dari hari ke hari. Jika hal ini dilakukan dengan serius dan tekun, maka mereka akan menemukan strategi dan taktik pemenangan yang jitu, sehingga bisa membuatnya sukses meraih kursi legislatif. Apalagi jika caleg yang bersangkutan memiliki kecerdasan memadai dan insting politik yang tajam, maka akan semakin memperbesar peluangnya untuk lolos menjadi anggota legislatif.

Kedua, bagi caleg pendatang baru yang dianggap awam dan membutuhkan dukungan pemikiran politik, ia dapat menggunakan “penasehat atau mentor politik”, sebagaimana yang dilakukan pada berbagai bidang lainnya. Melalui penasehat atau mentor politiknya, ia dapat menimbah banyak pengalaman serta memperoleh banyak pertimbangan dan pengetahuan praktis politik, guna mengefektifkan langkah-langkah taktis pencapaian tujuannya. Tentang hal ini sudah banyak politisi sukses yang bermula dari bantuan mentor politik. Entah mereka mengakui atau tidak, tetapi faktanya memang demikian.

Ketiga, faktor naluri politik juga merupakan salah satu faktor penting yang sudah teruji dalam kancah politik praktis. Faktor ini dapat membuat seseorang selalu berada pada posisi yang tepat, sehingga ia dapat terpilih menjadi anggota legislatif. Kepekaan dan kemampuannya dalam memahami dan mengikuti naluri politik secara tepat, biasanya dapat membuat seorang caleg pendatang baru dapat lolos menjadi anggota legislatif.

Keempat, sebagian besar caleg pendatang baru biasanya mereka adalah orang-orang yang masih bersih dari dosa-dosa politik masa lalu. Potensi ini dapat diandalkan untuk dijual semaksimal mungkin guna merebut hati para pemilih. Jualan ini akan semakin laris, mana kala diperhadapkan dengan pesaingnya dari kalangan caleg yang sebelumnya terbukti tidak mampu menjaga kepercayaan para pemilih.

Kelima, faktor keberuntungan dapat membuat seorang caleg pendatang baru dapat lolos menjadi anggota legislatif. Namun, hal pasti bahwa faktor keberuntungan ini tidak akan berpihak kepada semua caleg. Faktor keberuntungan ini tak pernah bisa diatur oleh siapapun, tetapi akan turut menentukan kesuksesan seorang caleg menjadi anggota legislatif. Tentu sebagian besar atau semua caleg mengharapkan faktor keberuntungan ini. Tetapi tak usah berharap secara berlebihan, agar setiap caleg tetap berusaha sebagaimana mestinya.

Bertolak dari uraian di atas, tidak tepat jika ada pendapat yang menganggap bahwa para caleg pendatang baru itu tidak bisa terpilih menjadi anggota legislatif. Semua caleg tetap memiliki peluang yang sama, perbedaannya ditentukan oleh sejauh mana masing-masing caleg yang bersangkutan mengelola berbagai dinamika dan variabel politik yang ada untuk merebut peluang, guna meraih kursi legislatif yang didambakannya.

Salam sukses untuk para caleg,

Daud Amarato D.

Tulisan ini juga dimuat di kompasiana.com:

https://www.kompasiana.com/daudamaratod/5c5e6bee677ffb2eb42e8179/benarkah-caleg-pendatang-baru-itu-tidak-bisa-terpilih