Sumber gambar: youtube.com

Adanya orang-orang tertentu yang menggunakan doa sebagai salah satu metode dan taktik dalam politik praktis, hal ini memantik diskusi di antara warga yang berminat terhadap masalah-masalah politik. Dalam diskusinya, mereka mempercakapkan banyak hal terkait dengan ‘doa politik’ dalam perhelatan politik di tahun 2019 ini.

Baca juga: KETIKA DOA MULAI DIPOLITISASI

Salah satu hal yang menarik dari percakapan warga adalah apakah ‘doa politik’ itu dapat berpengaruh terhadap pemilih?

Dari percakapan itu ada pendapat warga yang menyatakan bahwa ‘doa politik’ dianggap sebagai suatu bentuk komunikasi massa, yang mengandung pesan-pesan tertentu agar didengar oleh mereka yang hadir dalam ‘doa politik’ itu. Pesan-pesan itu kemudian diketahui isinya oleh mereka yang turut hadir dalam ‘doa politik’, yang disebut efek kognitif.

Ditambahkan bahwa biasanya ‘doa politik’ itu diliputi dengan suasana emosional yang kental, sehingga dapat melahirkan efek afektif. Lalu efek afektif ini akan semakin kuat, apabila suasana emosional yang terbangun saat itu telah dikelola sedemikian rupa.

Selanjutnya pesan-pesan itu akan dapat melahirkan suatu perilaku atau tindakan tertentu, yang disebut efek konatif (behavioral). Efek konatif ini sangat erat hubungannya dengan efek kognitif dan efek afektif. Semakin jelas pesan, serta semakin cerdas mengelola omosi pendengar dalam ‘doa politik’, maka efek konatifnya akan semakin kuat, selanjutnya akan memilih kandidat yang didoakan dalam doa politik yang bersangkutan.

 Dengan demikian menurut kelompok ini, suatu ‘doa politik’ itu bisa berpengaruh terhadap orang-orang yang mendengarkannya, yakni mereka yang hadir sebagai pemilih.

Selain itu, kelompok ini menyebutkan pula bahwa dari sisi keyakinan, dipercayai bahwa dengan adanya ‘doa politik’ akan menggerakan hati para pemilih untuk memilih kandidat yang sudah didoakan dalam ‘doa politik’ tersebut. Mereka percaya bahwa berkat ‘doa politik’ dapat merubah sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.

Baca juga: APAKAH “DOA POLITIK” ITU BERKENAN KEPADA TUHAN?

Namun, ada pula pandangan yang berbeda bahwa suatu ‘doa politik’ tidak berpengaruh terhadap pemilih, dengan beberapa alasan, berikut:

Pertama, pemilih yang turut hadir dalam ‘doa politik’ itu, biasanya lebih fokus dengan doa pribadinya sehingga tidak begitu mendengarkan apa yang disampaikan oleh pemimpin ‘doa politik’, sehingga pemilih yang bersangkutan akan sulit terpengaruh. Menurut kelompok ini, dalam keadaan yang demikian, efek kognitif dan efek afektifnya lemah, sehingga efek konatif hampir tidak terjadi.

Kedua, pemilih yang hadir dalam ‘doa politik’ itu bisa saja sudah memiliki pilihan politik sendiri sehingga apapun cara yang ditempuh untuk mempengaruhinya akan sulit tergoyahkan. Mereka bisa saja hadir pada kesempatan ‘doa politik’ itu karena alasan tertentu yang tidak dimaksudkan untuk mendukung figur tertentu yang sedang didoakan. Katanya, ada orang yang hadir karena alasan tenggang rasa atas undangan yang diperolehnya, atau karena terikat dengan aturan partai, hubungan pertemanan, atau alasan tertentu lainnya. Akibatnya ‘doa politik’ tidak mempengaruhi pilihannya.

Ketiga, ada pemilih yang hadir saat ‘doa politik’ itu, sudah menyadari sejak awal bahwa ‘doa politik’ berbeda dengan doa lainnya. Karena sudah menyadari akan hal ini sejak awal, maka mereka tidak akan memberi perhatian yang serius terhadap hal apa yang disampaikan dalam ‘doa politik’ itu. Hal ini berakibat ‘doa politik’ menjadi tidak berpengaruh terhadap pilihannya.

Bersadarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa suatu ‘doa politik’ itu dapat berpengaruh terhadap pemilih. Sebaliknya ‘doa politik’ juga bisa tidak berpengaruh bagi pemilih, dengan alasannya masing-masing yang sudah terurai di atas.

Terlepas dari pro-kontra yang ada, hal terpenting adalah semua orang mesti tetap menjaga kemurnian dan kesakralan doa sebagai wujud permohonan oleh umat manusia kepada Tuhan. Apapun permohonan yang disampaikan dalam doa, termasuk ‘doa politik’, tetap dijaga kemurnian dan kesakralannya sebagai suatu bentuk komunikasi dengan Tuhan. Doa bukan untuk suatu sandiwara apapun, apalagi ‘sandiwara politik’. Doa itu adalah hal yang tak patut dijadikan sebagai sandiwara.

Kita berharap agar rakyat menggunakan hak demokrasinya secara bebas dan bertanggung, tanpa terpengaruh oleh sandiwara apapun dalam menentukan pilihannya. Rakyat mesti menggunakan kedaulatannya secara penuh untuk menentukan pilihan terbaik bagi kemajuan bangsa dan negara.

Salam Demokrasi,

Daud Amarato D.

Tulisan ini juga dimuat di kompasiana.com:

https://www.kompasiana.com/daudamaratod/5c62483212ae9408a21b1542/apakah-doa-politik-dapat-berpengaruh-terhadap-pemilih