Sumber gambar: kupubiru.wordpress.com

Berbagai isu politik yang terus mengemuka, mulai dari isu radikalisme vs Pancasila, campur tangan asing, hoax, berbalas puisi, dan lain-lain mengindikasikan bahwa dinamika politik di negeri masih terus memanas, bahkan carut-marut. Dinamika politik itu mestinya tidak perlu mengobok-obok hal yang sudah final, yakni Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Kebhinekaan. Mengobok-obok empat pilar itu, selain terasa kurang elok, juga dapat mengganggu tatanan hidup berbangsa dan bernegara di negeri ini.

Di negara lain terutama negara-negara yang sudah maju, jarang ditemukan adanya perilaku berpolitik praktis yang menyentuh hal-hal final tentang tata hidup berbangsa dan bernegara. Mereka lebih menyoroti program pembangunan, kinerja dan kebijakan yang terkait dengan itu, ketimbang mempersoalkan hal-hal yang sudah final, apa lagi membuat hoax dan mengeksploitasi hal-hal privasi kandidat tertentu. Kedewasaan berpolitik di negeri ini masih terus berproses entah sampai kapan menjadi dewasa.

Terkait dengan fenomena di atas, ketika saya ikut nimbrung di sebuah warung kopi, ada hal yang menarik di sana. Di salah satu sudut ruang dalam warung kopi itu ada kelompok pelanggan yang ramai membahas berbagai isu-isu politik. Diskusi itu cenderung serius bahkan sedikit tegang akibat perbedaan pandangan politik dan perbedaan pilihan politik.

Sementara itu di sudut yang lain dalam warung kopi itu, ada sekelompok pelanggan yang sedang mempercakapkan hal-hal yang tidak terkait dengan politik. Mereka tidak tertarik dengan urusan politik praktis, apalagi carut marutnya. Tampaknya percakapan mereka lebih enjoy dan penuh canda tawa, seraya bercakap sekitar valentine day yang jatuh pada tanggal 14 Pebruari setiap tahun.

Kelompok ini tampak begitu bergairah mendiskusikan makna valentine day sebagai hari kasih sayang. Katanya di hari-hari lainnya mereka sangat sibuk dengan urusan masing-masing, kurang memberi perhatian terhadap sesama, sehingga mereka ingin merayakan valentine day dengan cara berbagi kasih berupa pemberian sembako kepada beberapa keluarga miskin sebagai wujud kasih sayang mereka kepada sesama.

Menurut kelompok ini valentine day merupakan suatu momentum yang dapat menyadarkan manusia tentang pentingnya kasih sayang yang nyata kepada sesama. Dari pancaran suasana kebathinannya, begitu terasa bahwa kelompok ini sangat enjoy menikmati hidupnya, serta berniat tulus untuk memberikan sesuatu yang nyata bagi kebaikan orang lain.

Dua fenomena dalam satu warung kopi ini, menghantar penulis untuk membayangkan bahwa secara umum demikianlah gambaran tentang kehidupan warga di negeri ini. Pada satu sisi ada sebagian warga sangat sibuk dengan urusan politik praktis, bahkan ada yang menjadikannya sebagai peluang untuk mencari nafka. Sementara itu sebagian warga yang lain lebih memberi perhatian terhadap hal-hal yang terkait langsung dengan kebutuhannya sehari-hari, serta membuatnya lebih enjoy ketimbang sibuk dengan carut marut politik.

Hal menarik dari dua fenomana di atas adalah bisakah keduanya disatukan dalam rasa, pikir, sikap dan tindak kita dalam hidup berbangsa dan bernegara? Maksudnya adalah urusan politik praktis didorong menjadi suatu hal yang menarik dan bisa dinikmati dalam suasana yang menyenangkan serta diwarnai dengan kasih sayang yang tulus.

Sepertinya hal itu hanya merupakan suatu mimpi yang akan sulit dibawa ke alam nyata. Dalam niat demikian, saya teringat dengan kata-kata bijak dari mantan guru saya bahwa

Suatu mimpi akan tetap menjadi mimpi manakala mimpi itu hanya oleh satu dua orang. Ketika suatu mimpi telah menjadi mimpi bersama, maka mimpi itu akan menjadi kenyataan.

Jika demikian, bagaimana cara agar dinamika politik praktis yang penuh intrik dan carut marut itu, bisa dibuat menjadi lebih baik, menyenangkan untuk dinikmati dan penuh kasih sayang?

Sebenarnya hal itu bisa terjadi apabila ada mimpi bersama untuk tidak menyentuh hal-hal yang final dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara, hoax, serta hal-hal kontra produktif lainnya.

Jika ada pihak atau oknum tertentu yang menggiring untuk melakukan carut-marut politik, maka tak perlu diresponi secara berlebihan. Jika diberi respon yang berlebihan, ibarat menahan lentingan bola, yang semakin ditahan, maka lentingannya akan semakin tinggi.

Lebih baik memberikan sanggahan yang bersifat pencerahan, ketimbang memberikan bantahan yang terasa mendiskreditkan. Upaya saling membalas tak akan pernah membuat suatu keadaan menjadi lebih baik. Banyak orang lupa bahwa apabila tamparan dibalas tamparan akan berakibat pada timbulnya suasana yang makin carut-marut. Mahatma Gandhi dalam perjuangan melawan penjajah selalu mengajarkan pengikutnya bahwa

….apabila kekerasan dibalas dengan kekerasan hanya akan melahirkan kebencian dan bibit-bibit permusuhan baru.  Gandhi mengajarkan, perjuangan itu harus berada di jalan yang benar dan bermoral.

Niat baik di atas akan dapat terwujud, jika para praktisi politik memiliki satu hal utama, yakni “kasih sayang”.

Terkait dengan hal ini, saya jadi teringat dengan sebuah cerita yang pernah diceritakan oleh mantan guru saya dulu. Adapun inti ceritanya, sebagai berikut.

Konon, di satu negara hiduplah seorang pemuda yang bernama Tresno, ia berniat melakukan perubahan atas situasi politik negara yang sangat diskriminatif dan tak menentu kala itu. Niat baik si Tresno itu, dipandang sebagai hal yang mengganggu kenyamanan para petinggi yang sedang menikmati kekuasaan kala itu. Akibatnya banyak tuduhan yang disangkahkan kepada si Tresno, oleh para petinggi yang merasa terganggu di negeri itu. Lalu mereka sukses menghantar si Tresno masuk dalam penjara.

Ketika Tresno dalam penjara ada seorang sipir yang sering berlaku kejam kepada si Tresno. Kekeliruan yang sepeleh oleh Tresno selalu dijadikan alasan untuk menghukumnya secara kejam. Hal itu membuat Tresno sangat menderita dan kejadian ini terus berlangsung hingga si Tresno keluar dari penjara dalam usia yang sudah senja.

Setelah Tresno bebas dari penjara, selain usianya yang senja, fisiknyapun sudah tak segagah dulu lagi, karena cukup lama dalam penjara, serta terus mengalami siksaan fisik dan bathin. Sehari-hari ia mencoba menyesuaikan diri kembali dengan alam bebas di luar penjara, serta terus aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Pada saat tahun politik tiba, atas dorongan warga yang bersimpati padanya, ia mengikuti kontestasi politik sebagai capres di negeri itu. Kebetulan sistem pemilihan yang berlaku adalah pemilihan langsung. Hasilnya Tresno memenangkan kontestasi politik dengan suara terbanyak, dan kemudian dilantik menjadi presiden yang sah secara hukum.

Setelah Tresno terpilih menjadi Presiden, sipir yang kejam tadi sangat ketakutan atas pembalasan yang akan diterimanya dari si Tresno. Sipir kejam itu selalu membayangkan berbagai hal buruk yang akan diterimanya dari si Tresno sang Presiden itu.

Ketika si Tresno dilantik menjadi Presiden, ia segera mendatangi rutan tempat ia pernah ditahan untuk bertemu dengan sipir kejam yang sering menyiksanya dulu. Katanya kepada sipir kejam, hal pertama yang saya lakukan setelah dilantik menjadi Presiden adalah “mengampunimu atas semua tindakan kejammu kepadaku”. Hal ini membuat sipir kejam itu sangat terkejut, kagum dan menaruh hormat yang luar biasa kepada si Tresno yang baru saja dilantik sebagai Presiden hari itu.

Si Tresno tidak menggunakan kewenangannya untuk melakukan balas dendam kesumatnya. Si Tresno lebih memilih untuk memahami dan mengampuni sipir kejam itu, ketimbang membalas akan perbuatan jahat dan kejam sipir.

Selanjutnya hal baik dari si Tresno ini tertular kepada sipir kejam. Sejak saat itu sipir tersebut bertobat dan merubah perilakunya dari tak berkasih sayang, menjadi orang selalu dan sering mengampuni orang lain. Ia tidak lagi menggunakan hak dan kewenangannya sebagai sipir untuk menghukum dan menyiksa para tahanan yang bersalah, ia lebih memilih memberi pembinaan dan pencerahan. Sipir kejam telah berubah menjadi manusia penuh kasih sayang dalam menyikapi kenakalan para tahanan.

Mencermati uraian di atas, dapat diambil hikmah bahwa sesungguhnya manusia dapat melakukan hal yang luar biasa dalam berpolitik atas dasar “kasih sayang”. Kasih sayang dapat merubah benci dan dengki, termasuk dendam politik, menjadi suatu pengampunan yang ikhlas.

Dari kesaksian sejumlah orang yang pernah mengampuni orang lain, katanya, kuasa pengampunan lazimnya dapat melahirkan hal-hal baik yang luar biasa, termasuk pengampunan dalam hal dendam politik.

Pertanyaannya adalah bisakah hal serupa (kasih sayang dan pengampunan) dapat dilakukan oleh para politisi di negeri ini guna mengatasi dan menghindari carut marut politik? Tentu jawabannya ada dalam diri setiap politisi, serta para pendukung dan dayang-dayangnya.

Selamat hari kasih sayang,

Daud Amarato D.

Artikel ini juga dimuat di kompasiana.com: https://www.kompasiana.com/daudamaratod/5c64e2db677ffb1fea459e05/carut-marut-politik-dan-valentine-day