Telah kita ketahui bahwa dalam suatu lembaga atau organisasi, sangat dibutuhkan kerja sama dari semua anggota tim, serta berbagai pihak terkait (stakeholder), baik stakeholder internal maupun eksternal. Hal ini mutlak diperlukan agar berbagai aktivitas, kegiatan dan program organisasi yang bersangkutan dapat berlangsung dengan baik guna mencapai tujuan organisasi sesuai harapan. Untuk itu, setiap pimpinan tim dalam organisasi yang bersangkutan mesti mampu menganyam jalinan kerjasama di antara seluruh anggota. Jalinan kerjasama ini dapat dipengaruhi oleh berbagai bentuk hubungan sosial yang ada diantara para anggota tim dan stakeholder yang bersangkutan.

Secara teoretis, hubungan sosial dalam sebuah organisasi terbagi atas dua, yakni hubungan formal dan hubungan informal. Hubungan formal dapat berupa hubungan struktural birokrasi, hubungan fungsional tugas, hubungan aliran pendanaan dan hubungan formal lainnya.

Sedangkan hubungan informal merupakan keterkaitan sosial yang bersifat tidak formal dan nyata terjalin diantara anggota tim maupun stakeholder dari suatu organisasi. Hubungan informal dapat berupa hubungan kekerabatan dan pertemanan.

Hubungan kekerabatan dimaksud adalah hubungan sosial antara manusia karena alasan: keluarga, silsilah, asal usul, sosial dan budaya tertentu. Hubungan ini biasanya ikut mewarnai berbagai interaksi sosial yang terjadi dalam suatu organisasi.

Hubungan pertemanan dapat dimaknai sebagai suatu keterkaitan sosial yang tercipta karena para pihak yang bersangkutan pernah berteman atau sedang berteman dalam suatu situasi dan kondisi sosial tertentu. Misalnya: teman sekolah, teman sehobi, teman sekampung, teman seperjuangan, teman sependeritaan, serta teman dalam hal tertentu lainnya. Fenomena berteman ini berakibat munculnya hubungan pertemanan, termasuk hubungan khusus tertentu yang nyata terjalin diantara para anggota dalam suatu tim.

Salah satu hal yang menarik dari berbagai fakta hubungan sosial dalam dinamika berorganisasi adalah sebagian besar orang hanya memberi perhatian terhadap hubungan formal yang ada, tanpa memperhitungkan peran dan pengaruh dari hubungan informal yang nyata terjalin dalam interaksi antaranggota organisasi. Faktanya, hubungan formal dan informal memiliki pengaruh yang sama, bahkan dalam kasus-kasus tertentu, justru hubungan informal (terutama hubungan khusus antaranggota), memiliki pengaruh yang jauh lebih dahsyat ketimbang hubungan formal.

Bertolak dari uraian di atas, pertanyaan yang muncul: (1) apakah hubungan khusus ini benar ada dalam organisasi? (2) apakah “salah” jika terjalin hubungan khusus antaranggota dalam suatu organisasi? (3) Bagaimana pengaruh dari hubungan khusus dalam suatu organisasi?

Jika kita menelisik fakta sosial pada semua organisasi, kita akan menemukan adanya berbagai indikasi yang memperlihatkan bahwa hubungan khusus itu nyata sedang terjadi dan akan selalu terjadi dengan sendirinya, oleh karena berbagai sebab serta untuk beragam tujuan.

Hubungan khusus, sebagai bagian dari hubungan pertemanan selalu ada karena alasan khusus dan untuk tujuan khusus, baik dalam hal yang bersifat sangat pribadi maupun hal-hal khusus yang terkait dengan kepentingan organisasi.

Ciri dari hubungan khusus ini antara lain: (1) tidak diketahui oleh banyak orang; (2) memiliki misi khusus, (3) memiliki tindakan-tindakan khusus; (4) memiliki rahasia-rahasia; dan (5) hal-hal khusus lainnya. Ciri-ciri ini merupakan fenomena yang memperlihatkan bahwa selalu ada hubungan khusus yang terjalin dalam suatu organisasi.

Terkait dengan pertanyaan: apakah “salah” jika terjalin hubungan khusus antaranggota dalam suatu organisasi?

Dapat dikemukakan bahwa sesungguhnya hubungan khusus tersebut memiliki manfaat yang sangat luar biasa untuk meningkatkan kinerja pencapaian tujuan organisasi. Sebab hubungan khusus ini biasanya dapat menembus batas-batas hubungan formal, termasuk dapat menembus batas-batas hubungan birokrasi yang formal dan kaku.

Suasana kebathinan dari para pihak yang menjalin hubungan khusus itu, terasa bahwa satu sama lainnnya adalah sama dan mengabaikan hubungan formal yang ada. Dalam kejadian ini senantiasa ada fenomena bahwa urusan dia adalah urusan saya, demikian pula sebaliknya. Atau masalah dia adalah masalah saya dan sebaliknya. Intinya para pihak yang memiliki hubungan khusus ini tidak dapat dipisahkan satu terhadap yang lain.

Mencermati fenomena tentang hubungan khusus sebagaimana terurai di atas, dapat ditarik makna bahwa sesungguhnya tidak salah apabila terjalin hubungan khusus antaranggota dalam suatu organisasi. Sebab hal ini dapat dimanfaatkan untuk saling mendukung yang mengarah pada upaya pencapai tujuan organisasi serta peningkatan kinerja sebagaimana yang diharapkan. Dengan demikian jalinan hubungan khusus dapat berkontribusi positif bagi organisasi yang bersangkutan.

Sementara itu, banyak fakta yang juga mempertontonkan kejadian yang berbeda, yakni hubungan khusus dapat melemahkan organisasi, menurunkan kinerja, bahkan dapat menggagalkan pencapaian tujuan organisasi. Hal ini bisa terjadi terutama karena dua masalah pokok.

Pertama, salah satu, beberapa atau semua orang yang sedang menjalin hubungan khusus tersebut memiliki tujuan pribadi yang jauh lebih kuat ketimbang tujuan bersama dalam organisasi.

Fakta bahwa manusia tergolong sebagai omnivora (pinjam istilah dalam ilmu biologi), dapat membuat manusia (secara naluria) bisa memakan apa saja yang dapat dimakannya. Namun hal istimewah yang membedakan manusia dengan omnivora lainnya adalah manusia memiliki akal budi atau akal sehat untuk memilah dan memilih apa yang layak dimakan dan mana yang tidak pantas. Demikian pula halnya dengan menyikapi tujuan dalam sebuah organisasi.

Dalam organisasi manapun, selalu hadir bersama antara tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. Adanya tujuan pribadi dalam organisasi sebenarnya tidak salah. Hal yang keliru adalah manakala tujuan pribadi mengalahkan tujuan organisasi.

Biasanya tujuan-tujuan pribadi seseorang akan selalu menggambarkan karakter kehewanannya sebagai omnivora. Namun yang membedakan seseorang terhadap yang lain adalah kadar kemampuan dalam menahan dirinya. Akal sehat dan kemampuan dalam pengendalian diri sangat berperan untuk menahan diri dari perilaku omnivora.

Sebenarnya akal sehat pada semua orang itu sama. Hal yang berbeda adalah kepekaan dan kemampuan dalam mengendalikan diri tersebut. Kepekaan dan kemampuan kendali diri ini sangat ditentukan oleh wawasan pikir, orientasi hidup, kemampuan dalam membedakan mana tujuan pribadi dan mana tujuan organiasi, serta keinginan untuk menjaga integritas dirinya.

Jika semua faktor pada penjelasan di atas berlangsung normal, dan tetap fokus pada tujuan organisasi, maka sesungguhnya hubungan khusus yang terbangun dapat bermanfaat untuk meningkatkan kinerja dan pencapaian tujuan organisasi.

Kedua, hal lain yang membuat hubungan khusus dapat melemahkan organisasi, menurunkan kinerja, bahkan dapat menggagalkan pencapaian tujuan organisasi adalah para pihak yang menjalin hubungan khusus berada dalam posisi standing psikologi yang berbeda. Seseorang berada dalam tekanan psikologi oleh orang lain. Dalam situasi ini bisa saja seseorang yang berada dalam tekanan tetap memiliki hati untuk mengedepankan tujuan organisasi, namun ia lemah dalam mempertahankan idealismenya karena posisinya berada dalam tekanan psikologi. Posisinya akan selalu serba salah, sehingga mudah diperalat dan akan selalu bersikap “ikut mau” dari pihak yang menekannya secara psikologi.

Celakanya lagi, kadang kala pihak yang diperalat tidak menyadari bahwa ia sedang dikerjain dan ditekan. Mungkin karena cara si penekan sangat lembut, cerdas dan cermat. Atau pihak yang sedang ditekan dan diperalat tersebut, tidak bercuriga sedikitpun, sehingga tak sempat berpikir ke arah sana.

Dalam situasi seperti itu, pihak yang sedang tertekan dan diperalat tersebut, segala kepintaran dan kehebatannya dapat hilang atau lemah tak berdaya. Ia akan terkesan seperti “kerbau cocok hidung” yang akan selalu tunduk dan patuh dengan si pemberi tekanan psikologi. Itulah sebabnya mengapa seseorang yang sesungguhnya pintar bahkan hebat, tetapi tampak tak berdaya dalam situasi-situasi tertentu.

Orang yang berada dalam tekanan psikologi atau diperalat seperti itu seharusnya sadar dan bangkit melakukan perlawanan dengan cara yang lebih taktis dan siap menerima resiko yang lebih ringan, sebelum resiko-resiko yang lebih besar menimpahnya. Ia mesti segera berbenah dan mengambil langkah sebelum semuanya terlambat. Ia dapat mengambil langkah-langkah taktis dengan resiko yang lebih kecil, ketimbang harus memikul resiko yang lebih besar di kemudian hari.

Hal terbaik yang mesti dilakukan oleh semua pihak dalam suatu organisasi adalah memanfaatkan hubungan khusus yang telah terjalin untuk mencapai tujuan organisasi, serta berusaha menahan diri dan mengesampingkan tujuan pribadi dari para pihak yang menjalin hubungan khusus.

Langkah kongkritnya adalah jika muncul suatu masalah dalam organisasi karena adanya hubungan khusus yang berperan sebagai ‘pengganggu’, maka segera pastikan dimana penyebabnya, lalu pihak bersangkutan mesti tegar dan berani untuk segera mengambil langkah taktis yang tepat, agar keluar dari masalah yang ada.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa “hubungan khusus” dapat berpengaruh secara positif dan juga bisa berpengaruh secara negatif. Hal ini tergantung dari siapa yang membangun hubungan khusus, ketegaran dalam mempertahankan atau mengutamakan tujuan organisasi, serta kemampuan dalam mengelola hubungan khusus tersebut agar tetap terarah pada peningkatan kinerja dan pencapaian tujuan organisasi. Terutama kepekaan untuk menyadari bahwa apakah ia sedang ditekan atau diperalat untuk tujuan pribadi seseorang atau tidak.

Perlu diingat bahwa secara teoretis, kerjasama tim dalam suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh adanya hubungan sosial antaranggota tim dan seluruh stakeholder yang terkait didalamnya, baik itu hubungan formal maupun hubungan informal, termasuk hubungan khusus. Semua hubungan sosial ini mesti dianalisis dan dikelola untuk membangun kerjasama yang efektif guna mencapai tujuan organisasi.

Salam Sukses…!!

Daud Amarato D.

Iklan