Menjadi pribadi, lembaga atau organisasi yang besar, hebat, dahsyat dan luar biasa merupakan impian semua orang. Oleh karena itu, berbagai upaya dan taktik ditempuh untuk meraih impian ini.

Ukuran kebesaran, kadar, level, maupun martabat seseorang, lembaga atau organisasi apapun tentunya memiliki kriteria dan indikator tertentu. Hal ini tergantung pada objek apa yang menjadi sasaran untuk diukur kebesaran, kadar, level maupun martabatnya. Biasanya kriteria dan indikator itu bersifat standar, objektif dan rasional, sehingga bebas dari multitafsir. Dengan demikian siapapun yang melihat dan menggunakan kriteria dan indikator tersebut mesti memiliki pemahaman yang sama.

Namun dalam dinamika fakta sosial, sering pula ditemukan ada sejumlah oknum, lembaga atau organisasi tertentu yang memiliki kriteria dan indikator tentang kebesaran, kadar, level maupun martabatnya secara subyektif. Kriteria dan indikator subyektif ini bisa berdasarkan pemahaman dan keyakinan pribadi, pengalaman hidup, tafsiran, dan sejumlah dasar lain yang bersifat subyektif. Kriteria dan indikator subyektif ini dibuat secara internal dan digunakan untuk keperluan internal pula. Kejadian seperti itu dapat dipahami dan diterima sebagai suatu fakta sosial, serta merupakan hal biasa dan tidak ada yang aneh di situ.

Hal yang luar biasa (tidak biasa) adalah jika seseorang, lembaga atau organisasi tertentu menggunakan kriteria dan indikator subyektifnya untuk mengukur kebesaran, kadar, level maupun martabat terhadap semua hal atau pihak yang serupa atau sebangun. Dalam situasi demikian, jelas bahwa ia akan merasa paling baik, besar dan gagah. Peristiwa inilah yang sering kali menyulut perdebatan antara pihak yang mengukur dan diukur.

Terkait dengan fenomena di atas, biasanya obyek-objek yang serupa ingin bersaing dalam hal siapa atau mana yang lebih besar terhadap yang lain. Untuk keperluan itu, entah sadar atau tidak, satu pihak sering kali menggunakan kriteria dan indikator subyektifnya untuk merasa lebih besar, hebat dan seterusnya, dibanding pihak lain yang dianggap sebagai pesaingnya. Perilaku demikian tentu dapat melahirkan berbagai perdebatan yang tak akan berujung atau bisa berakhir fatal.

Kejadian seperti itu ibarat cerita berikut ini. Konon suatu ketika ada seorang pria berkulit hitam bercerita bahwa dialah lelaki yang paling jantan, karena ia merasa lebih kokoh, besar dan gagah. Sekaligus meremehkan, bahkan menyalahkan lelaki berkulit putih yang ia anggap lembut dan manis. Si Kulit hitam merasa bahwa dialah yang paling pantas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan maskulinitas, ketimbang lelaki kulit putih yang dianggapnya feminim.

Menyikapi fenomena ini, tentu tak bisa diterima oleh si kulit putih. Karena faktanya tidak seperti yang dipikirkan oleh si hitam. Menurut si putih, anggapan atau tuduhan si hitam itu tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Sebab si putih juga sukses dalam sejumlah urusan yang terkait dengan maskulinitas, bukan hanya si hitam yang sukses. Sebaliknya pada kasus-kasus tertentu justru si hitam yang gagal dibanding si putih sebagai pihak yang sudah dianggap remeh.

Menghadapi situasi itu (dalam cerita ini), datanglah seorang peneliti yang ingin meneliti tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kejadian tersebut di atas. Setelah dilakukan penelitian, hasil penelitiannya menemukan bahwa sebenarnya persoalan tersebut sangat kasuistik dimana si hitam yang gemar merendahkan si putih itu sedang berupaya menutupi kekurangannya dengan cara membangun pandangan yang menggunakan kriteria dan indikator subjektifnya, serta dilandasi oleh asumsi pribadinya. Si Hitam berharap agar pandangan yang dibuatnya dapat membangun opini publik bahwa si hitam lebih besar dan gagah ketimbang si putih.

Kebetulan si peneliti (dalam cerita ini) adalah seorang psikolog, lalu ia terdorong untuk meneliti lebih lanjut tentang kondisi psikologi si Hitam yang bersangkutan. Dengan menggunakan instrumen-instrumen tes psikologi yang ada padanya, si Peneliti menguji psikologi si Hitam. Dari hsl tes psikologi tersebut, diperoleh data bahwa si Hitam dalam cerita ini sedang berada dalam situasi psikologi yang rapuh, lalu membangun cerita hebat untuk menutupinya.

Saudaraku, sering kali fenomena dalam cerita di atas, terjadi dalam hidup keseharian kita. Bahwa kadang kala ada sejumlah oknum, lembaga atau organisasi tertentu yang ingin membesarkan dirinya dengan cara mengecilkan pihak lain. Ia ingin terlihat lebih baik dengan cara menjelekan pihak lain, atau supaya terkesan lebih benar, maka ia menyalahkan pihak lain. Pada satu sisi ia ingin terlihat lebih besar dan gagah, namun tanpa ia sadari bahwa pada sisi lain perilaku demikian sedang mempertontonkan kekerdilan dan kerapuhannya.

Angka 8 (delapan) tak mesti merendahkan VIII (delapan romawi), hanya karena ia merasa bahwa Angka 8 lebih banyak (mayoritas) digunakan dalam berbagai hal, ketimbang VIII, sebab mereka memiliki kadar yang sama. Apalagi Angka 8 merendahkan Angka 9 dan 10, supaya Angka 8 dianggap lebih besar dari Angka 9 dan 10.

Sebaliknya Angka 9 dan 10 tidak perlu tersinggung. Sebab anggapan Angka 8 tidak akan pernah menurunkan kadar dari Angka 9 dan 10. Kadar atau level Angka 9 dan 10 bukan ditentukan oleh omongan dan anggapan Angka 8. Angka 9 dan 10 akan tetap memiliki kadar dan level yang lebih tinggi dari Angka 8 sampai kapanpun. Dengan demikian Angka 9 dan 10 tak perlu sibuk dan berapi-api membela diri. Apalagi memperkarakan Angka 8 yang sudah jelas lebih rendah kadar, martabat dan levelnya dibanding Angka 9 dan 10. Biarkan saja Angka 8 terus berkicau dan merasa lebih besar terhadap Angka 9 dan 10 karena faktanya tidak demikian.

Analogi di atas memberikan gambaran tentang oknum-oknum tertentu yang tanpa sadar mempertontonkan kekerdilan, kerapuhan dan kegelisahannya dengan cara merendahkan pihak lain. Pada hal faktanya mereka selevel atau bahkan pihak yang direndahkan justru memiliki kadar dan level yang lebih tinggi. Secara emosional hal itu bisa memicu kisruh yang tak diinginkan. Lalu apa untungnya? Bukankah kisruh justru bisa menimbulkan hal-hal yang lebih buruk serta dapat mengganggu relasi sosial, bahkan lelehannya dapat merambat kemana-mana?

Emas akan tetap emas dan bernilai tinggi, walaupun disebut perak atau perunggu atau logam biasa sekalipun. Emas mesti tetap yakin bahwa ia adalah emas. Jati dirinya sebagai emas tidak ditentukan oleh ungkapan orang, tetapi ditentukan oleh kriteria dan indikator objektifnya yang menunjukkan bahwa ia adalah emas. Dengan demikian mestinya semua orang tak perlu terganggu dengan omongan dan anggapan apapun yang buruk terhadapnya, selama faktanya tidak seperti itu.

Salam Kebajikan…!!

Daud Amarato D.

Iklan