Ada seorang anak murid yang masih kecil, ia tergolong kritis dan berani di kalangannya. Murid kecil ini adalah anak petani, yang biasanya membantu orang tuanya dalam hal yang sangat terbatas karena kapasitasnya sebagai anak kecil.

Suatu ketika ia datang kepada gurunya untuk menceritakan bahwa ia kecewa dengan ayah sebagai seorang petani yang dianggapnya gagal menghasilkan produk pertanian sebagaimana yang diharapkan. Bahkan ia mengancam ayahnya agar segera berhenti sebagai petani, karena dianggapnya sebagai ayah yang tak becus dan amburadul mengurus kehidupan mereka dalam keluarga. Dengan tenang Sang Guru mendengarkan anak kecil ini yang bercerita berapi-api bahkan terkesan diselimuti dengan emosi kekanak-kanakan.

Setelah anak itu selesai bercerita, Sang Guru menepuk bahu anak kecil ini dengan penuh rasa empati, katanya:

“Anakku, sebagai orang tua dan guru, saya dapat memahami perasaan dan suasana kebathinanmu. Kamu sangat berharap agar ayahmu menjadi seorang petani sukses yang bisa memenuhi segala hasrat dan keinginanmu, bukan?”

Anak kecil ini mengangguk setuju akan pertanyaan gurunya. Lalu dengan lembut dan penuh kasih, Sang Guru menepuk bahu anak kecil ini. Katanya:

“Anakku ada hal yang perlu kamu mengerti bahwa sebagai seorang ayah, sesungguhnya ayahmu tidak menginginkan kegagalan itu. Ia sudah berusaha sekuat tenaga, serta telah mencurahkan semua waktu, pikiran dan mentalnya untuk mencapai sukses sesuai dengan yang kamu inginkan. Entah kamu sadar atau tidak Sang Ayahpun sudah bertekat menjadi seorang ayah yang sukses membahagiakan semua orang seisi rumahnya”.

Mendengar hal itu, anak kecil ini terperanjak. Lalu Sang Guru melanjutkan: “Selama ini kelihatannya Kamu hanya fokus pada hasil panen, tanpa kamu melihat dan memperhitungkan usaha dan jerih lelah Sang Ayah yang telah berusaha semampunya untuk niat baik itu. Namun, karena keadaan iklim yang kurang mendukung, serta keterbatasan modal untuk membeli air, pupuk dan obat-obatan, hal itu telah menyebabkan hasil panen tidak sesuai dengan keinginanmu, nak. Sementara itu, kegagalan ini bukan hanya dialami oleh keluarga kalian, semua petani mengalami hal yang serupa. Bahkan ada petani lain yang jauh lebih gagal”.

Berangkat dari penjelasan Sang Guru, kemudian anak kecil ini bertanya: “Lalu apa yang harus kuperbuat, Guru?”. Dengan senyum simpati, Sang Guru meminta kepada anak kecil ini:

“Pulanglah dan bantulah ayahmu sekuat tenaga yang sesuai dengan kapasitasmu sebagai anak kecil. Lebih penting lagi, hendaknya kamu mendoakan agar iklim yang kurang mendukung ini segera berlalu, serta diberikan hikmat kebijaksanaan dalam menghadapi situasi ini. Ayahmu sudah pusing dan sangat lelah dengan kondisi ini, mestinya kamu jangan menambah beban moril dan mental ayahmu yang sedang berupaya mewujudkan kesejahteraan bagi kalian semua dalam satu rumah tangga”.

Mendengar penjelasan itu, anak kecil ini menantang gurunya: “Mestinya sebagai seorang pemimpin dalam keluarga, ayah harus sukses memenuhi hasrat dan keinginan kami. Saya menilai bahwa ia tak sanggup menjadi ayah, sebaiknya ia mundur sebelum semuanya menjadi kacau balau”.

Dengan senyum penuh arti, Sang Guru berkata; “Anakku, apakah kamu sudah pernah menjadi seorang ayah, yang menjadi tumpuan hidup dan harapan bagi semua orang dalam serumah?” Anak kecil ini menjawab: “Saya masih anak kecil dan belum pernah menjadi ayah, Guru”.

Lalu Sang Guru lanjut berkata: “Karena kamu masih kecil dan belum pernah menjadi seorang ayah, itulah sebabnya kamu berpikir dan bicara seenaknya, tanpa memahami apa yang kamu pikir dan katakan itu. Oleh karena itu pulanglah hormati orang tua dan pemimpinmu, hargai usaha mereka serta renungkan bagaimana seandainya jika kamu yang menjadi seorang ayah sebagai pemimpin dalam situasi dan kondisi seperti ini. Boleh kritis, namun jangan lupa untuk memberikan tawaran solusinya”.

Lalu dengan perasaan tak menentu, anak kecil itu pamit dan kembali kerumahnya sambil merenungkan nasehat gurunya.

Kupang, 29 Mei 2020

Salam Sehat…

Daud Amarato D.